A. Profil Puskesmas Cihideung Kota Tasikmalaya
1. Wilayah Kerja
Puskesmas
Wilayah kerja Puskesmas Cihideung mencakup 3 kelurahan, yakni:
a. Kelurahan Nagarawangi
terdiri dari 11 Rw 45 Rt dengan 11 Posyandu.
b. Kelurahan Tuguraja terdiri dari 14 Rw 72 Rt dengan 14
Posyandu.
c.
Kelurahan Tugujaya
terdiri dari 9 Rw 51 Rt dengan 9 Posyandu.
2. Sumber Daya Manusia
Puskesmas
Jumlah seluruh pegawai di Puskesmas Cihideung
31 orang, terbagi dalam:
a. 21 orang PNS (Pegawai Negeri Sipil),
b. 3 PTT (Pegawai Tidak Tetap) dan,
c. 5 orang sukwan.
3. Visi, Misi, Tujuan dan
Kebijakan Mutu Puskesmas
a. Visi dari Puskesmas Cihideung yakni Melati dalam arti
puskesmas yang melayani dengan sepenuh hati
b. Untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan, maka Puskesmas
Cihideung mempunyai misi sebagai berikut:
1) Menjadi pusat informasi kesehatan bagi masyarakat diwilayah
kerja Puskesmas Cihideung sebagai pengembangan kegiatan Promkes (Promosi
Kesehatan) yang bermutu, sehingga mendorong kemandirian individu, keluarga dan
masyarakat untuk berperilaku sehat dan produktif
2) Mengadakan upaya pelayanan kesehatan yang terjangkau,
bermutu dan merata bagi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Cihideung dan
sekitarnya
3) Mengadakan sistem pencatatan, pelaporan terpadu serta
perencanaan dan evaluasi secara terpadu, baik lintas program maupun lintas
sektoral, sehingga kesehatan menjadi tanggung jawab bersama semua sektor.
c. Adapun strategi
Puskesmas Cihideung untuk mewujudkan visi dan misi tersebut diatas tercermin
dalam 6 program prioritas sesuai dengan Program Nasional, yaitu:
1) Promosi Kesehatan
2) Kesehatan Lingkunga
3) KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) / KB (Keluarga Berencana)
4) Perbaikan Gizi
5) Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular
6) Pengbatan ditunjang Laboratorium sederhana dan Farmasi
(obat-obatan).
Penyelenggaraan upaya kesehatan yang bersifat
menyeluruh dan terpadu dilaksanakan melalui peningkatan kesehatan (promotif),
pencegahan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) disertai
dengan upaya-upaya penunjang lainnya secara lintas program dan lintas sektoral
bersama dengan masyarakat.
Gambar 1.1
Tempat Pendaftaran Pasien Puskesmas Cihideung
Gambar 1.2
Balai Pengobatan Umum (BP Umum) Puskesmas Cihideung
Gambar 1.3
Ruang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Cihideung
B. Sistem Informasi Kesehatan
1. Pengertian
Di Puskesmas Cihideung ini istilah SIK (Sistem
Informasi Kesehatan) lebih dikenal dengan SIP (Sistem Informasi Puskesmas)
yakni suatu sistem informasi yang mendukung dalam hal pengambilan keputusan di
bidang administrasi kesehatan. Caranya yaitu bisa dilihat dari cara pembayaran
maupun golongan umur.
2. Tipe
Tipe pengelolaan SIKnya, pengelolaan SIK
komputerisasi Offline. pada jenis ini pengelolaan
informasi di pelaksana kesehatan sebagian besar/seluruhnya sudah dilakukan
dengan menggunakan perangkat komputer, baik itu dengan menggunakan
aplikasi Sistem Informasi Manajemen maupun dengan aplikasi perkantoran
elektronik biasa, namun masih belum didukung oleh jaringan internet online ke
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Propinsi/Bank Data Nasional.
Jadi dalam hal ini puskesmas menginputkan data ke
dalam komputer yang kemudian hasilnya di print out untuk
dijadikan laporkan ke Dinas Kesehatan.
Tetapi dalam menerapkan pengelolaan SIK
komputerisasi Offline ada beberapa kendala, diantaranya
terjadi kerusakan pada harddisk sehingga di Puskesmas
Cihideung untuk sekarang ini mengunakan Pengelolaan SIK Manual, dimana
pengelolaan informasi berbagai badan pelaksana pelayanan kesehatan
di daerah dilakukan secara manual atau paper based melalui
proses pencatatan pada buku register, kartu, form-form khusus, mulai dari
proses pendaftaran sampai dengan pembuatan laporan. Pengelolaan secara manual
selain tidak efisien juga menghambat dalam proses pengambilan keputusan
manajemen dan proses pelaporan.
3.
SIK Terintegrasi
SIK terintegrasi adalah
sistem informasi yang menyediakan mekanisme saling hubung antar sub sistem
informasi dengan berbagai cara yang sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga
data dari satu sistem secara rutin dapat melintas, menuju atau diambil oleh
satu atau lebih sistem yang lain. Setiap Puskesmas tentunya menginginkan SIK
terintegrasi termasuk Puskesmas Cihideung ini, karena dengan adanya SIK
Terintegrasi, pengisian data hanya perlu dilakukan satu kali sehingga data yang
sama akan disimpan secara elektronik dan bisa dikirim dan diolah.
4.
Model
SIK
Dalam rangka memperkuat SIK Nasional, model SIK
Nasional baru akan dikembangkan menggantikan sistem manual yang saat ini masih
diterapkan di Indonesia. Model baru ini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi
dan komunikasi tetapi tetap dapat menampung sistem manual untuk fasilitas
kesehatan yang masih mempunyai keterbatasan infrastruktur (seperti pasokan
listrik dan peralatan komputer serta jaringan internet). Dengan model ini,
kedepan semua pemangku kepentingan SIK bisa bergerak menuju kearah SIK
terkomputerisasi dimana proses pencatatan, penyimpanan dan diseminasi informasi
bisa lebih efisien dan efektif. SIK Terkomputerisasi juga diakui bisa
meningkatkan akurasi data.
Dalam model SIK baru, fasilitas pelayanan kesehatan
yang masih memakai sistem manual akan melakukan pencatatan, penyimpanan dan
pelaporan berbasis kertas dengan mengikuti jadwal rutin yang telah ditentukan.
Laporan dikirimkan secara fisik ke dinas kesehatan kabupaten/kota berupa data rekapan/agregat.
Untuk fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah
komputerisasi (memakai applikasi SIMPUS atau SIM RS) tetapi tidak mempunyai
jaringan internet, laporan juga dikirim secara berkala ke dinas kesehatan
kabupaten/kota, bisa berupa softcopy (sesuai yang
ditentukan di dalam Bab Manajemen Data) atau berupa hardcopy (kertas)
tetapi diupayakan untuk mengirim secara softcopy, sehingga tidak
perlu dientri ulang ke sistem oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Laporan yang
dikirim dalam bentuk softcopy berupa data individual.
Untuk petugas kesehatan di lapangan (bidan, posyandu,
polindes), pelaporan juga wajib diberikan kepada puskesmas yang membinanya,
berupa data rekapan/agregat. Selanjutnya akan dikembangkan program mobile
health (mHealth) untuk membantu petugas kesehatan di lapangan
dengan teknologi informasi dan komunikasi sehingga data individual bisa
langsung masuk ke bank data.
5. Implementasi Model SIK
Implementasi model baru SIK akan dilakukan secara bertahap :
a. Tahap 1, Pengembangan fasilitas Bank Data Kesehatan Nasional dan platform diseminasi
data (melalui www.depkes.go.id) yang dilakukan oleh Pusdatin. untuk penyimpanan data
kesehatan pasien secara individu (data disaggregat) dan juga data bersumber
survei dan sensus kependudukan.Platform yang direncanakan ini
akan berperan sebagai pintu utama akses data kesehatan dimana semua pemangku
kepentingan dan pemakai data kesehatan bisa mengakses secara online dari
mana saja dan melakukan ”data mining” atau
pembuatan laporan secara fleksibel dan
terkomputerisasi.
b. Tahap 2, Implementasi SIKDA Generic terkomputerisasi di semua komponen sistem kesehatan (puskesmas, RS, Dinkes kabupaten/kota/Provinsi).
Investasi dana pusat ataupun daerah akan diarahkan untuk
mengkomputerisasikan semua fasilitas pelayanan dan juga dinas kesehatan seluruh
Indonesia secara bertahap. Data individu (yang diperlukan dalamkegiatan ”data mining”) hanya bisa dicatat/dilaporkan sekiranya ini dilakukan secara elektronik,karena sistem yang berbasis manual akan menghasilkan terlalu banyak kertas
dan tidak feasible untuk transportasi dan penterjemahan data. Komputerisasi ini
meliputi perubahan kerja setiap tahap
pelaksanaan pelayanan kesehatan (misalnya pendaftaran, layanan poliklinik, pengelolaan
inventori, proses kerja penunjang, dan sebagainya) sehingga data dicatat hanya satu kali saja dan disimpan/dikirim
secara elektronik.
c. Tahap 3, Apabila mayoritas fasilitas pelayanan dan
dinas kesehatan sudah berjalan secara
terkomputerisasi,
maka langkah selanjutnya adalah dengan mengkomputerisasikan para petugas
kesehatan di lapangan melalui teknologi komunikasi bergerak atau mHealth.
6. Telemedicine dan mHealth
Telemedicine dan mHealth adalah dua teknologi yang bisa
merubah cara pelayanan kesehatan diberikan dan data kesehatan dicatat atau dilaporkan. Akan tetapi di Puskesmas Cihideung belum melakukan Telemedicine dan mHealth karena keterbatasan Sumber Daya Manusia.
Telemedicine, penerapan teknologi komunikasi untuk pelaksanaan konsultasi kesehatan
secara jarak jauh dimana petugas lapangan bisa diberikan dukungan secara
“virtual” oleh pakar/tenaga ahli kesehatan seperti ahli
radiolog (di daerah yang kekurangan tenaga radiolog di lapangan) atau ahli lainnya seperti
dermatolog. Petugas di lapangan bisa mengirim gambar
atau video dan berkomunikasi untuk mendapatkan nasihat dari pakar / ahli yang
berada di lokasi lain (seperti kota besar).
mHealth, Mobile
Health adalah pemakaian perangkat komunikasi bergerak seperti telepon genggam dalam proses pelayanan kesehatan.
Aplikasi ini dipakai dengan berbagai cara seperti pelaporan langsung dari
lapangan dari petugas (pada saat pemberian pelayanan, data pasien langsung dilaporkan melalui perangkat telepon genggam secara bersamaan) dan memungkinkan petugas lapangan mendapat nasihat atau
pembelajaran secara langsung melalui telepon genggam.


